medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

SID Suarakan 'Tolak Reklamasi Bali' pada Konser Satu Indonesia

Published in Event & Komunitas
Kamis, 27 November 2014 09:51
  • Email
Superman is Dead (Gambar: Official SID) Superman is Dead (Gambar: Official SID)

Medialingkungan.com – Konser “Satu Indonesia” di Jakarta Convention Center (JCC) malam tadi (26/11) berlangsung spektakuler dan monumental. Bertajuk “Salute to Guruh Sukarnoputra”, dalam konser ini, karya-karya emas Guruh Soekarnoputra diaransemen ulang oleh Erwin Gutawa dan dinyanyikan oleh para penyanyi generasi muda, yaitu Raisa, Tulus, Judika, RAN, Superman is Dead, The Overtunes, Nowela, Anak Di atas Rata-rata (DARR), German Dmitriev, I Gusti kompiang Raka dan Kinarya GSP.

Ada yang unik dalam pertunjukan seni kelas wahid ini. Grup musik punk-rock asal Bali, yang juga aktif dalam gerakan peduli lingkungan hidup, Superman Is Dead (SID) mempersembahkan aksi spektakulenya di atas panggung untuk mengkampanyekan penolakan reklamasi di Teluk Benoa, Bali, yang sudah dua tahun terkahir mereka suarakan.

Sejalan dengan misi mereka yang menolak “uruk laut” lahan seluas 838 hektare itu, pada konser tersebut SID sambil mengenakan pakaian adat Bali sebagai wujud kampanyenya dan turut menyanyikan dua lagu karya Guruh Soekarnoputra yakni Kembalikan Baliku dan Anak Jalanan.

“Ini pertama kali saya melihat itu sebagai tantangan karena saya belum pernah. Ini saatnya naik kelas. Dari dulu menghormati Guruh menghormati karya-karyanya. Kita kolaborasi sama orkestra Mas Erwin Gutawa. Agak nervous karena banyak musisi, pokoknya beda sama konser SID sebelumnya. Kami melihat ada relevansinya sama misi SID,” ungkap Jerinx, drumer SID, saat menjelang konser.

Lalu dalam membawakan lagunya ia kembali menyuarakan penolakan tersebut. "Yang kami butuhkan bukan reklamasi, tapi subsidi untuk para petani. Tolak reklamasi Teluk Benoa!" seru Jerinx di tengah-tengah lagu. "Ayo berdiri! Tolak Reklamasi!!"

Tak Surut Sampai Dinyatakan “Batal”

Penolakan reklamasi akan terus berkobar dan tak akan surut hingga pemerintah menyatakan pembatalan proyek reklamasi itu. Berbagai cara pun dilakukan. “Sebelumnya kita membuat panggung di atas laut dan datang sekitar 5.000 orang”.

Di samping itu, mereka juga telah meminta pembatalan proyek itu pada pemerintah yang baru. “Kami sudah memberikan berkas penolakan ke Pak Jokowi, saya sudah memberikan ke Pak Anies Baswedan,” terang pria betato ini.

Jerinx menilai pembangunan proyek itu sangat merugikan masyarakat Bali, reklamasi menimbulkan dampak yang besar bagi masyarakat Bali, terutama ketersediaan air. Tak hanya itu, ketika musim penghujan tiba Bali akan terkena banjir, dan terkena abrasi air laut.

Ia katakan bahwa penindasan oleh para investor tak lagi bersifat koersif. "Investor sekarang mainnya tak lagi pakai kekerasan fisik dalam menekan kami, tapi dengan kebijakan. Sebelum SBY turun, dia tega-teganya mengeluarkan Perpres 51 no 2014. Jadi dalam kebijakan itu para investor bisa mengalihkan fungsi teluk Benoa," katanya.

Jerinx sangat berharap pemerintahan Presiden Joko Widodo dapat menolak reklamasi.

"Pemerintahan Jokowi tak ada alasan tak tahu penolakan reklamasi karena beberapa kali Jokowi ke Bali sudah diberi berkas penolakan reklamasi, demikian juga dengan Menteri Susi dan Menteri Anies Baswedan, kami berharap pemerintahan baru tak melakukan reklamasi," katanya. (MFA)

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini