medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Perusahaan Senjata AS Tertarik Investasi Energi Dari Sampah di Sumsel

Published in Nasional
Kamis, 15 Desember 2016 22:48

Medialingkungan.com – Sampah yang terbuang dan menumpuk selalu menjadi masalah di suatu negara, namun tak disangka permasalahan sampah di Sumatera Selatan ini menjadi keuntungan sendiri untuk menarik investor. Sebuah perusahaan pembuat senjata asal Amerika Serikat, Lockheed Martin Corp tertarik berinvestasi di Sumatera Selatan, dengan memanfaatkan sampah di daerah tersebut untuk diolah menjadi energi listrik.

Seperti dilandir Antara, Yohanes H. Thoruan selaku Asisten II Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan mengatakan bahwa, Sumsel menawarkan dua lokasi untuk investasi ini yakni di Kabupaten Ogan Komering Ulu (Timur) dan OKU Induk.

Untuk menyakinkan mereka, Pemprov Sumsel juga menginformasikan bahwa daerah ini juga merupakan pengekspor listrik di beberapa beberapa wilayah di Indonesia, bahkan sampai ke Singapura.

"Saat paparan, investor AS tertarik dan akan segera membuat studi kelayakannya sekitar 3-4 bulan dan rencananya tahun 2017 sudah bisa jalan," ujar Yohanes, di Palembang, Kamis (15/12).

Mengenai nilai investasi, Yohanes belum dapat menyebutkannya. Sedangkan untuk pembiayaannya akan menggunakan sistem pinjaman yang menguntungkan bagi Sumsel maupun Investor.

Sumsel membidik proyek energi baru dan terbarukan ini karena negara telah mengalokasikan dana APBN untuk mencapai target penyediaan energi 35.000 MegaWatt dalam lima tahun hingga 2019.

Sebelumnya, Pemerintah Kota Palembang sudah membangun Pembangkit Listrik Sampah berkapasitas 500 kiloWatt (kW) di kawasan Tempat Pembuangan Akhir Sukawinatan dengan menggunakan dana APBN. (Andi Wahyunira)

Tesco dan Sainsbury Larang Penggunaan Plastik Pada Cotton Buds

Published in Internasional
Jumat, 02 Desember 2016 13:14

Medialingkungan.com - Dua jaringan supermarket terbesar di Inggris telah berkomitmen untuk segera mengakhiri penjualan cotton buds berbahan dasar plastik batang, yang merupakan sampah paling umum ditemukan di toilet negara itu.

Seperti dilansir The Guardian, kedua supermarket tersebut yakni Tesco dan Sainsbury berencana akan menggantikan tongkat plastik cotton buds dengan kertas pada akhir 2017 di produk yang mereka produksi sendiri.

Perusahaan besar lainnya, termasuk Morrisons, Asda dan Boots, saat ini juga sedang mempertimbangkan larangan plastik pada produk itu. Sementara Waitrose, Koperasi-Koperasi dan Johnson telah berkomitmen untuk beralih kekertas batang.

"Kami berkomitmen untuk memastikan semua produk kapas label bud kita sendiri akan dibuat dengan kertas batang, dan hal ini akan dilakukan pada akhir 2017," kata seorang juru bicara Tesco.

Sementara itu, juru bicara Sainsbury mengatakan, "Kami telah bekerja keras untuk meningkatkan produk ini. cotton buds baru kami, dengan 100% batang biodegradable, akan tersedia sebelum akhir 2017."

Natalie Fee, pendiri City to Sea Campaign mengatakan, "Kami senang dengan pengumuman untuk mengganti tongkat pada cotton buds dari plastik ke kertas batang. Langkah ini akan menghentikan jutaan plastik batang berakhir di lingkungan laut setiap tahun dan merupakan kemenangan besar dalam memerangi polusi plastik laut. "

"Ini adalah komitmen besar dari Tesco dan Sainsbury," kata Emma Cunningham di Marine Conservation Society. "Kami menemukan lebih dari 23 (plastik) tongkat cotton bud pada setiap 100 m dari pantai kita dibersihkan pada bulan September. Pesannya jelas, hanya kencing, kotoran dan kertas yang harus pergi ke toilet.”

Sampah plastik dapat ditemukan di sepanjang garis pantai Inggris.  Pencemaran plastik di lautan, dikenal dapat mempengaruhi kehidupan laut karena terbatasnya persediaan makanan dilautan sehingga tak jarang organisme laut akan mengonsumsi limbah plastik tersebut. Orang yang makan seafood juga berpotensi menelan plastik.

Kepala Medis Inggris, November lalu mengumumkan dia akan melakukan investigasi lebih dalam mengenai dampaknya pada kesehatan manusia. (Mirawati)

Ini Dia Tips-Tips Atasi Sampah Ala Bapak Nol Sampah

Published in Informasi & Teknologi
Rabu, 23 November 2016 15:52

Medialingkungan.com – 30 tahun bergelut dengan sampah, menjadikan Prof. Paul Connett, Ph.D menjadi salah satu pemerhati sampah dunia. Paul yang dijuluki sebagai Bapak Nol Sampah itu pun terlibat dalam gerakan advokasi menolak pembakaran sampah sebagai solusi pengelolaan sampah. Menurutnya membakar sampah membutuhkan lebih banyak energy, contohnya saat membawa sampah ke tempat pembakaran, konsumsi bahan bakar sampai kepada pembakaran sampah itu sendiri dan juga justru akan menimbulkan masalah lain seperti mengubah sampah menjadi racun dan asap.

Paul yang juga berprofesi sebagai Professor kimia lingkungan  di St. Lawrence Universiy, New York tersebut pekan lalu mengunjungi Indonesia tepatnya di Bali dan bertemu dengan Wali Kota Denpasar, tim dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Bali, aktivis lingkungan, dan masyarakat untuk mengenalkan kepada mereka metode penanganan sampah yang efektif di Indonesia.

Seperti yang dilansir oleh Mongabay Indonesia, Paul menawarkan sepuluh langkah untuk mengatasi masalah tersebut berdasarkan hasil kajiannya. Namun, dia mengatakan, langkah tersebut juga disesuaikan dengan konteks lokal. Apa yang sudah berhasil diterapkan di Amerika Serikat dan Kanada, misalnya, belum tentu bisa diterapkan di Indonesia.

Lima langkah pertama yakni pengelolaan sampah organik menjadi kompos; memilah sampah mulai dari setiap rumah tangga; mengumpulkan sampah dari rumah ke rumah; mendaur ulang; serta memperbaiki dan menggunakan ulang (reuse).

Keberhasilan lima langkah pertama tersebut, lanjutnya, bisa mengurangi sampah sampai 80 persen. Hal ini berbeda dengan incinerator yang justru mengubah sampah menjadi racun dan asap.

Paul menjelaskan bahwa di Los Angeles, Amerika Serikat daur ulang sampah justru mendatangkan pendapatan baru bagi masyarakat. Dari 72.000 ton sampah yang bisa di daur ulang di kota tersebut memberikan pendapatan sekitar 39,6 juta USD per tahun kepada masyarakat. Menurutnya dengan mendaur ulang sampah, warga mendapatkan manfaat ekonomi, menciptakan lapangan kerja serta kesehatan yang lebih baik.

Lima langkah selanjutnya, lebih pada tahap pengurangan residu yaitu adanya insentif ekonomi dalam mendaur ulang sampah; inisiatif untuk mengurangi sampah; pemisahan fasilitas pengolahan sampah; adanya pusat riset nol sampah; serta desain produk yang lebih ramah lingkungan.

Langkah-langkah pengurangan sampah tersebut juga berhasil di beberapa negara, seperti Italia dan Amerika Serikat. Di Italia, dia memberikan contoh, sudah ada lebih dari 1.000 komunitas telah membuat alih rupa sampah (diversion) hingga 70 persen. Komunitas lain bahkan mencapai 90 persen.

Direktur Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Bali, Catur Yudha Hariani menanggapi positif beberapa hal yang di sampaikan Paul pada pertemuan tersebut. Menurutnya, sampah yang sudah overload di Bali harus di tanggapi dengan benar yaitu dengan memilah sampah mulai dari sumbernya itu sendiri.

Catur yang saat ini bersama dengan PPLH aktif melakukan pendidikan pada warga untuk mengelola sampah mengaku perlu adanya edukasi yang berkelanjutan kepada masyarakat dalam hal pengelolaan sampah di Bali dan hal tersebut menjadi  tanggung jawab bersama. (Suterayani)

School Visit: Belajar Konservasi di Alam Terbuka Bersama BKSDA dan Lentera Negeri

Published in Event & Komunitas
Minggu, 05 Juni 2016 13:21

Medialingkungan.com –  Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sulawesi Selatan bekerjasama dengan Lentera Negeri Makassar kembali melakukan kegiatan School Visit, pada minggu pagi (05/06). Kegiatan ini merupakan lanjutan dari kegiatan sebelumnya, dimana kali ini dilaksanakan dengan metode outdoor dan games yang bertempat di Taman Gedung Ipteks, Universitas Hasanuddin Makassar.

Kegiatan ini diikuti oleh 47 orang siswa sekolah non-formal yang dibina oleh komunitas Lentera Negeri Makassar. Para siswa ini terdiri dari 3 kelas yang tergabung, yaitu kelas bagian Daya, Antang, dan Gowa. Kegiatan outdoor dan games ini dipandu langsung oleh Hamka, staf BBKSDA Sulsel, dimana games ini menanamkan nilai kepada anak usia dini untuk mengetahui dampak dari membuang sampah sembarangan, serta bagaimana mengenal dan mengidentifikasi satwa langka.

Kepala Seksi Pemanfaatan dan Pelayanan BBKSDA Sulsel, Edy Santoso menerangkan bahwa kegiatan School Visit ini merupakan salah satu program BBKSDA Sulsel yang bertujuan untuk berbagi pengetahuan tentang konservasi kepada masyarakat dalam hal ini anak-anak usia dini. Selain itu, program ini juga bertujuan untuk menanamkan pola hidup ramah lingkungan kepada anak usia dini dengan mengenalkan cara pengelolaan lingkungan hidup sederhana di sekitar kita, seperti pengelolaan sampah, penanaman pohon, serta pengenalan tumbuhan dan satwa dilindungi.

“BBKSDA yang mempunyai tugas dan fungsi pengelolaan konservasi dan pengelolaan tumbuhan dan satwa liar juga perlu untuk memberikan pengetahuan kepada anak-anak tentang flora dan fauna, agar mereka mengetahui kekayaan hayati di Indonesia, khususnya di Sulawesi,” kata Edy.

Edy menambahkan kegiatan ini dilaksanakan di ruang alam terbuka sebagai upaya pengenalan secara langsung kepada anak-anak terkait hal-hal yang dapat mengurangi kualitas lingkungan hidup, seperti pencemaran akibat membuang sampah sembarangan, dan lain sebagainya.

“Kegiatan konservasi memerlukan dukungan masyarakat luas, sehingga pola hidup yang mencerminkan kelestarian lingkungan dapat tertanam pada diri individu sejak usia dini,” tambahnya. {Muchlas Dharmawan)

AccorHotels Berbagi Tempat Sampah di Karebosi, Makassar

Published in Event & Komunitas
Rabu, 13 April 2016 09:39

Medialingkungan.com - AccorHotels Cluster Makassar kembali menggelar kegiatan rutin tahunan yaitu Planet 21. Kali ini kegiatan dilaksanakan di Lapangan Karebosi, Makassar, dengan serangkaian aktivitas yang dilakukan seperti penyerahan tempat sampah secara simbolik kepada pemerintah kota Makassar, aksi bersih-bersih bersama staf AccorHotels, dan ditutup dengan senam Zumba bersama (12/4).

AccorHotels yang terdiri dari tiga hotel yakni Ibis Budget Makassar Airport, Ibis Makassar Centre dan juga Novotel Makassar Grand Shayla City Centre melakukan penyerahan tempat sampah yang nantinya akan diletakkan di beberapa titik di Lapangan Karebosi. Penyerahan dilakukan oleh Jean Michel Serriere (Novotel Grand Shayla City Centre) dan Joice (Ibis Budget Airport) kepada Sekertaris Daerah Kota Makassar, H. Ibrahim Saleh.

Kegiatan yang diadakan setiap bulan April ini dihadiri oleh beberapa perwakilan dari instansi pemerintah daerah kota Makassar, jajaran staf AccorHotels Cluster Makassar dan juga komunitas Earth Hour Makassar. Ibrahim Saleh selaku Sekretaris Daerah Kota Makassar sangat mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurutnya kegiatan ini sangat sejalan dengan program dari pemerintah kota Makassar, yaitu Makassar Tidak Rantasa (MTR).

Kezia Maureen selaku Cluster Marcom Manager Novotel Makassar mengungkapkan bahwa kegiatan Planet 21 ini merupakan program pembangunan berkelanjutan, yang berfokus pada kebutuhan untuk mengubah pola produksi dan konsumsi untuk melindungi planet kita, orang-orang, dan lingkungan hidup mereka. Dengan Planet 21, AccorHotels menegaskan 21 komitmen terhadap kesehatan, alam, energi, inovasi, kerja, dll. dan juga tujuan untuk dicapai di beberapa tahun kedepan.

“Untuk tahun ini, AccorHotels Cluster Makassar memperingati Planet 21 dengan menyumbangkan beberapa tempat sampah yang akan diletakkan di Lapangan Karebosi Makassar dengan tujuan agar lapangan tetap terlihat bersih dari sampah, sehingga para pengunjung tetap merasa nyaman jika berkunjung ke salah satu landmark kota Makassar ini”, ujarnya.

Kezia berharap pemberian tempat sampah tersebut bisa dimaksimalkan oleh masyarakat yang berkunjung ke Karebosi. Dengan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan agar tetap sehat, dan tidak ada lagi pengunjung yang membuang sampahnya di sembarang tempat. {Dedy}

Norwegia dan Denmark Dukung Indonesia Atasi Perubahan Iklim

Published in Nasional
Minggu, 27 Maret 2016 08:08

Medialingkungan.com – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menerima kunjungan Pemerintah Norwegia untuk mendukung program Indonesia dalam upaya penurunan emisi gas rumah kaca, khususnya dalam pengelolaan hutan melalui kegiatan Penurunan Emisi Dari Deforestasi dan Degradasi Hutan (REDD+) dan pembangunan ekonomi rendah karbon.

Hal ini disampaikan Menteri LHK, Siti Nurbaya saat menerima kunjungan Duta Besar Norwegia untuk Indonesia Stig Traavik di ruang kerjanya, Kamis (24/03).

Pada pertemuan itu, Siti juga menyampaikan sejumlah upaya yang telah dilakukan pihaknya dalam pencegahan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di daerah yang rawan kebakaran, salah satunya melalui pembangunan sekat kanal gambut di Sumatera dan Kalimantan.

Siti mengatakan, sekat kanal dinilai efektif dalam pengendalian Karhutla dan mempertahankan muka air gambut. Dalam upaya antisipasi Karhutla, Siti mengundang Stig Traavik pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) yang rencananya akan dipimpin Presiden Joko Widodo di Propinsi Jambi, 5 April mendatang.

Di samping itu, Siti juga menyampaikan bahwa pada era yang lebih terbuka seperti saat ini, “Setiap orang bisa mengakses informasi publik yang tersedia setiap saat. Apapun informasi yang dibutuhkan masyarakat akan segera disampaikan oleh Kementerian LHK,” ujarnya.

Sementara itu, Menteri LHK kembali menerima kunjungan dari Duta Besar Denmark untuk Indonesia, Casper Klynge yang lebih fokus membicarakan tentang pengelolaan sampah dan limbah.

Siti menjelaskan bahwa saat ini KLHK sudah punya contoh pengelolaan sampah menjadi energi listrik di Cilacap, Jawa Tengah.  “Hal ini sejalan dengan target Presiden untuk membangun pembangkit listrik 35.000 MW. Indonesia juga punya proyek di 80 kota yang sudah punya alat pemproses sampah seperti di Malang, Martapura, Kendari, dan Balikpapan, dll,” ungkap Siti.

Casper Klynge juga menyampaikan, Denmark telah punya teknologi yang bagus dalam pengelolaan sampah dan limbah.  “Denmark lebih fokus dalam pengelolaan sampah dan bagaimana merubah sampah menjadi energi. Kami mengambil sampah dari Inggris, dan kita buat teknologi pengolahannya di Denmark,” papar Casper.

Selain membeberkan tentang teknologi pengolahan sampah menjadi energi, Pemerintah Denmark juga tertarik dengan upaya restorasi ekosistem yang diterapkan di Hutan Harapan Jambi. Pemerintah Denmark akan mempelajari model kerjasamanya. {Fahrum Ahmad}

Raksasa Coffee Shop Kampanye Anti Kemasan Kertas

Published in Internasional
Rabu, 23 Maret 2016 09:38

Medialingkungan.com – Raksasa coffee shop dunia, Starbucks, mengumumkan penawaran khusus bagi pelanggannya yang tidak menggunakan kemasan kopi (cangkir kertas) Starbucks. Pihak perusahaan yang memiliki sekitar 20 ribu kedai di seluruh dunia ini, menawarkan diskon 50 pence (Pecahan Pounds Sterling) atau setara Rp9500 jika membawa cangkir minuman sendiri untuk diminum di tempat.

Seperti diberitakan The Independent, Kebijakan ini mulai diterapkan pada April mendatang dengan diawali dua bulan percobaan. Setelah dievaluasi, kemungkinan akan diberlakukan permanen.

Regulasi korporasi kopi asal Amerika ini merupakan dukungan untuk kampanye mengurangi sampah cangkir kertas. Hal ini sekaligus menjawab kegelisahan internasional mengenai tingginya produksi sampah di dunia.

Seperti dikabarkan sebelumnya, Starbucks menghabiskan 7 juta cangkir kertas di Inggris setiap hari dan 2,5 juta cangkir dibuang ke tempat pembuangan akhir. Setelah pengumuman ini, masyarakat menunggu korporasi kopi lain untuk membuat kebijakan yang sama.

Departemen Urusan Lingkungan, Pangan, dan Pedesaan Inggris menyangkal rencana adanya pajak terhadap cangkir kopi sekali pakai, setelah Menteri Lingkungan Inggris Rory Stewart menyarankan ide tersebut.

Stewart menunjuk keberhasilan pengenaan harga 5 pence untuk kantong plastik. Dia berpendapat retribusi yang sama untuk cangkir kopi yang tak dapat didaur ulang bisa menjadi item yang dikenai pajak.

Chef dan campaigner antilimbah Hugh Fearnley-Whittingstall mengatakan keputusan Starbucks memberikan diskon 50 pence kepada yang menggunakan cangkir sendiri adalah “lompatan seismik”.

Kabar tersebut datang setelah korporasi kopi besar, seperti Starbucks, Costa, dan Pret dituduh membuat klaim palsu tentang jumlah cangkir kertas mereka yang benar-benar didaur ulang.  Menurut Simply Cups, satu-satunya layanan daur ulang cangkir kertas di Inggris menyatakan, para korporat kopi tersebut hanya mendaur ulang satu dari 400 cangkir mereka.

Seperti yang telah ramai diberitakan di Inggris, sekalipun ‘tanda daur ulang’ ada di cangkir kertas jaringan kopi Costa, para ahli membongkar klaim jaringan tersebut. Cangkir mereka hanya dapat didaur ulang dalam pendauran ulang kertas campuran karena bagian dalamnya dilapisi plastik tipis yang disebut polyethylene.

Menanggapi isu yang beredar itu, Starbucks dalam situs resminya menyatakan, “Kami telah membuat kemajuan penting untuk mengurangi dampak limbah yang dihasilkan toko-toko kami. Kami berkomitmen mengurangi jejak lingkungan kita dengan berfokus pada tiga area utama, yakni mengurangi limbah yang berhubungan dengan bisnis kami, meningkatkan angka daur ulang, dan mempromosikan penggunaan cangkir yang dapat digunakan ulang.”

Starbucks berharap 100 persen cangkirnya dapat didaur ulang dan memastikan 5 persen konsumennya menggunakan cangkir yang telah didaur ulang ketika meminuman kopi hangat di tokonya. {Fahrum Ahmad}

JK Saksikan Penandatangan Komitmen Kantong Plastik Berbayar

Published in Nasional
Minggu, 06 Maret 2016 12:39

Medialingkungan.com – Wakil Presiden Jusuf Kalla menyaksikan penandatangan nota komitmen oleh pemerintah daerah di 17 kota se-Indonesia mengenai sosialisasi kantong plastik berbayar yang diselenggarakan saat peringatan Hari Peduli Sampah Nasional 2016 di Celebes Conservation Center, Makassar Sulawesi Selatan, pada Sabtu, 5 Maret 2016.

Selain Wakil Presiden, penandatangan itu juga disaksikan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar, dan setidaknya 4.000 warga masyarakat.

Nota Komitmen ini merupakan salah satu upaya pemerintah dalam mengakselerasi penekanan penggunaan plastik di Indonesia yang disepakati oleh Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo). 17 kota yang menandatangani nota komitmen itu adalah kota terpilih sebagai pilot project yang mengenakan beban biaya kantong plastik pada konsumen yang berbelanja di pasar ritel.

Ke 17 kota tersebut antara lain: Ambon, Balikpapan, Banjarmasin, Makassar, Kendari, Bogor, Malang, Medan, Tangerang, Tangerang Selatan, Banda Aceh, Bandung, Depok, Jayapura, Pekanbaru, Semarang, dan Surabaya.

Keseriusan pemerintah Kota Makassar dalam menjalankan komitmen (uji coba) ini, juga diikuti oleh 23 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan.

Jusuf Kalla mengemukakan bahwa kemajuan teknologi dan perkembangan ekonomi berimplikasi pada peningkatan jumlah produksi sampah setiap tahun. Bias peningkatan ekonomi ini akan berbanding lurus dengan tingkat konsumsi masyarakatnya. "Karena pendapatan meningkat, sekarang orang lebih sering belanja. Banyak belanja berarti makin banyak yang dibungkus,” tuturnya.

Ia menambahkan, salah satu penemuan dari perkembangan teknologi yang mendorong kemudahan bagi masyarakat yang sederhana (tapi membahayakan) adalah kantong plastik murah. Namun, dibutuhkan waktu yang sangat lama untuk terurai.

"Zaman dulu nasi, kue, dibungkus dengan daun. Sekarang hampir semua dibungkus plastik. Sampai beli onde-onde pun pakai plastik," seloroh Kalla seperti dilansir tempo.co.

Kalla meminta masyarakat mulai mengubah perilaku dan kebiasaannya menggunakan kantong plastik saat berbelanja. Tidak perlu menunggu kebijakan pemerintah. "Kita tidak bisa menghindari plastik, tapi paling tidak bisa dikendalikan," sebutnya.

Selain itu, Kalla juga berharap agar cara pandang masyarakat terhadap sampah mulai bergeser, dari beban menjadi kawan. Sampah menurut Kalla, termasuk plastik, masih bisa dimanfaatkan dengan cara mendaur ulang untuk berbagai kepentingan. "Kita belajar dari sapi. Dagingnya kita makan, kulitnya bisa jadi sepatu, kotorannya bisa jadi pupuk. Tidak ada yang terbuang. Semua bisa bermanfaat," kata Kalla.

Sementara itu, Siti Nurbaya mengatakan uji coba kantung plastik berbayar ini adalah upaya revolusi mental untuk mendorong kebiasan masyarakat untuk berperilaku ramah lingkungan.

Lebih lanjut ia jelaskan, pemerintah tidak bermaksud membebani masyarakat membayar sesuatu untuk sampah, melainkan untuk menanamkan prinsip bergaya hidup ramah lingkungan.

Masyarakat kata Siti, sebaiknya menggunakan tas sendiri yang dibuat dari bahan ‘non-plastik‘ saat berbelanja sebab meski kecil, namun dampaknya terhadap lingkungan hidup bisa besar. Sebaliknya, tas plastik meskipun kecil, namun terus menambah beban kepada lingkungan. "Selama ini, masyarakat sesunguhnya menyadari itu namun abai," jelasnya. {Fahrum Ahmad}

Greenpeace Ikut Serukan Indonesia Bebas Sampah dan Bebas Insinerator

Published in Nasional
Selasa, 23 Februari 2016 14:28

Medialingkungan.com – Ratusan aktivis Greenpeace Indonesia turut melakukan aksi bersih sampah bersama masyarakat di Hari Peduli Sampah Nasional 21 Februari 2016. Aksi bersama ini dilakukan di 8 kota yaitu Padang, Pekanbaru, Bandung, Semarang, Jogja, Surabaya, Jayapura, dan Jakarta. Aksi bersama ini merupakan bagian dari dukungan Greenpeace terhadap Gerakan Indonesia Bebas Sampah 2020.  

“Indonesia sebagai penyumbang sampah ke lautan kedua terbesar di dunia, harus segera berbenah diri dalam pengelolaan sampahnya, karena banyak sampah yang berakhir di lautan dan mengancam keberlanjutan ekosistem laut Indonesia yang indah,“ ujar Arifsyah Nasution, Juru Kampanye Laut Greenpeace Indonesia dalam siaran persnya (22/02).

Menurutnya, masyarakat di seluruh dunia terus menghasilkan lebih banyak sampah dan limbah. Sehingga dibutuhkan dukungan politik pemerintah dan inovasi serta pertanggungjawaban industri yang kuat untuk mengubah tren yang mengkhawatirkan itu. Untuk itu, pengelolaan sampah perlu dilakukan secara terpadu dan mengatasi akar masalahnya.

Greenpeace menganggap bahwa inisiatif terbaru pemerintah sebagai solusi penanganan sampah melalui upaya pengolahan sampah waste to energy dengan teknologi thermal seperti insinerator -- termasuk gasifikasi dan pyrolisis yang rencananya akan dibangun di 7 kota di Indonesia justru berpotensi menghasilkan masalah baru.

“Mitos terbesar dari insinerator adalah bahwa ia membuat sampah hilang. Pada kenyataanya sampah hanya berubah bentuk menjadi gas dan disebar ke udara, perairan dan daratan yang luas. Pembakaran yang terjadi di insinerator menghasilkan berbagai polutan berbahaya termasuk Dioxin, material paling beracun yang dikenal ilmu pengetahuan yang dapat menyebabkan kanker pada manusia. Jika pemerintah terus bersikukuh membangun insinerator dan sejenisnya ini sama saja dengan secara sengaja meracuni udara dan lingkungan kita,” ungkap Ahmad Ashov Birry, Juru Kampanye Detox Greenpeace Indonesia.

Insinerator melepaskan berbagai polutan dalam bentuk gas, abu dan residu beracun lainnya. Filter yang digunakan untuk membersihkan gas dalam cerobong insinerator juga menghasilkan limbah beracun padat dan cair, yang pada akhirnya juga harus dibuang.

Menurut Ahmad, satu-satunya cara untuk memperbaiki situasi ini dan melindungi lautan dari pencemaran yang akut dengan menghindari produksi sampah dan limbah beracun dengan menghapuskan penggunaan bahan beracun berbahaya, mentransformasi proses produksi dan penanganan setelah pakai dari berbagai produk yang kita gunakan.

Ia menambahkan, sksi masyarakat di Hari Peduli Sampah Nasional 2016 sudah seharusnya diikuti kepedulian pemerintah untuk tidak membangun insinerator dan sejenisnya yang hanya akan membahayakan lingkungan dan kesehatan masyarakat. Penolakan masyarakat terhadap insinerator telah berkembang di seluruh dunia.

Masyarakat telah menyadari bahwa tidak ada tempat untuk pembakaran sampah dan limbah B3 dalam masyarakat yang berkelanjutan. Greenpeace Indonesia terus berupaya mendorong Indonesia bebas sampah, dan bebas insinerator. {Fahrum Ahmad}

Menteri LHK: Perpres Pengelolaan Sampah Diuji Coba Tahun 2016

Published in Nasional
Selasa, 15 Desember 2015 13:15

Medialingkungan.com – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) terus melakukan penyempurnaan peraturan presiden mengenai kebijakan strategis pengelolaan sampah. Menteri KLHK, Siti Nurbaya mengatakan, pihaknya sedang memperbaiki penysusunan kebijakan tesebut.

"Saat ini masih kami perbaiki terus. Setelah dari kami, kemudian akan diberikan ke Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional, lalu ke Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral terakhir ke Kementerian Dalam Negeri," jelas Siti di Gedung KLHK, Jakarta, Senin (14/12).

Siti mengungkapkan, kebijakan terkait pengelolaan sampah harus dimulai paling lambat pada tahun 2016. Namun, Siti juga memperingatkan, sebelum benar-benar diselenggarakan di seluruh wilayah di Indonesia, pemerintah harus melakukan percobaan di sejumlah daerah terlebih dahulu.

Beberapa daerah yang masuk dalam pertimbangan pemerintah adalah DKI Jakarta, Surabaya, Solo, Balikpapan, Malang, Bandung (Kota/Kabupaten), Gorontalo, Kendari, Martapura, dan Payakumbuh. "Nanti akan kami tentukan percobaannya dilakukan di mana. Yang jelas kategorinya adalah kota metropolitan, besar dan kecil," ujar Siti.

Dalam kesempatan itu, Siti juga menekankan bahwa terdapat pertimbangan sehingga pemerintah menyusun perpres itu, yakni: kebijakan itu diharapkan bisa mengatur kesatuan sistem pengolahan dari rumah tangga sampai pembuangan akhir.

Lebih lanjut ia katakan, pemerintah berkeinginan agar perpres tersebut meliputi adanya pengubahan sampah menjadi energi maupun pembuatan kompos. Dan ada juga seputar terobosan-terobosan terkait hukum.

Pemerintah sendiri mencanangkan percepatan penanganan sampah di tahun 2016-2017 karena menganggap sampah sudah menjadi persoalan darurat. Terkait terobosan itu, Siti mengungkapkan, selama ini investasi swasta di bidang sampah hampir tidak pernah ada yang terlaksana karena rumitnya sistem tender dan birokrasi.

Hal demikian juga menjadi tantangan bagi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pasca kepulangan Presiden Joko Widodo dari KTT Perubahan Iklim di Paris yang mengistruksikan agar sampah di Indonesia dihilangkan melalui pengelolaan bahan buangan menjadi energi baru dan terbarukan.

Hal ini merupakan salah satu komitmen presiden dalam konferensi itu, yakni: target penggunaan energi baru terbarukan pada 2025 mencapai 23 persen. {Fahrum Ahmad}

Halaman 1 dari 6

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini