medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Aliansi Nelayan Kembali Gelar Aksi Tolak PLTU Batang

Published in Nasional
Sabtu, 26 November 2016 11:11

Medialingkungan.com – Masih soal kisruh PLTU Batang, kali ini giliran aliansi ratusan nelayan Batang, Paguyuban UKPWR (Ujungnegoro, Karanggeneng, Ponowareng, Wonokerso, Roban) yang kembali melakukan aksi di kawasan perairan Ujungnegoro-Roban. Aksi yang dilakukan pada Jumat (25/11) ini diikuti dengan puluhan perahu nelayan, yang dimana aksi ini bertujuan untuk menghentikan operasi kapal alat berat yang sedang melakukan persiapan pembangunan PLTU batubara Batang.

Setelah ditandatanganinya kesepakatan pendanaan PLTU Batang oleh JBIC (Japanese Bank for International Cooperation) tanggal 6 Juni 2016, Paguyuban UKPWR telah melakukan beberapa kali aksi menolak pembangunan mega-proyek ini. PLTU Batubara Batang akan dibangun di kawasan pertanian subur seluas 226 hektar, dan kawasan perairan Ujungnegoro-Roban yang merupakan salah satu kawasan tangkap ikan paling produktif di Pantai Utara Jawa.

"Hari ini, kami nelayan yang tergabung dalam Paguyuban UKPWR kembali melakukan aksi protes terhadap pembangunan PLTU batubara Batang, terus terang kami sudah tidak tahu ke mana lagi harus mengadukan nasib kami, kami sudah berjuang selama lebih dari 5 tahun, namun sepertinya pemerintah tak sedikitpun menghiraukan suara rakyatnya," kata Abdul Hakim, salah satu Nelayan Paguyuban UKPWR, seperti dilansir oleh Greenpeace Indonesia.

Sampai sekarang, masih ada puluhan pemilik lahan yang menolak menjual lahan mereka untuk lokasi pembangunan proyek energi ini. Pemerintah menerapkan Undang-Undang No. 2 Tahun 2012 tentang pengadaan lahan bagi pembangunan untuk kepentingan publik. Penerapan UU ini membuat masyarakat kehilangan hak atas tanah mereka, meskipun mereka menolak untuk melepas lahan pertanian mereka. Uang pembebasan lahan sampai hari ini masih dititipkan di Pengadilan Negeri Batang.

Upaya pembebasan lahan secara paksa bagi proyek ini dibangun oleh Konsorsium PT. Bhimasena Power Indonesia, konsorsium yang terdiri dari dua perusahaan Jepang, J-Power dan Itochu, dan satu perusahaan nasional, Adaro Power.

"Kami ingin menunjukkan pada masyarakat Indonesia dan kalangan internasional bahwa Paguyuban UKPWR tetap menolak pembangunan PLTU batubara Batang di tempat kami mencari makan,” ujar Abdul Hakim.

“Kami ingin Presiden Jokowi mau sedikit saja menggunakan hati nuraninya untuk mau memperhatikan nasib kami. Kami dulu 100% mendukung Presiden Jokowi dalam Pilpres dengan harapan beliau mau mendukung perjuangan kami, terus terang kami sedih sekarang Presiden Jokowi sama sekali tidak mau mendengar suara kami," tambahnya.

PLTU Batang merupakan salah satu PLTU batubara terbesar di Asia Tenggara dengan kapasitas sebesar 2000 MW. Menurut Greenpeace Indonesia, dalam proses pembebasan lahan proyek ini berbagai pelanggaran HAM telah terjadi, mulai dari intimidasi terhadap warga setempat, sampai kriminalisasi terhadap pemilik lahan yang menolak menjual lahan pertanian mereka. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia RI mengeluarkan beberapa surat rekomendasi yang menyatakan bahwa proyek ini telah melanggar hak-hak mendasar warga UKPWR.

"Greenpeace tetap akan mendukung perjuangan warga Batang dalam mempertahankan ruang hidup mereka dari ancaman PLTU batubara, pemerintah seharusnya lebih mengutamakan suara rakyat Batang daripada korporasi," kata Dinar Bayunikmatika, salah satu Pengkampanye Greenpeace Indonesia. (Muchlas Dharmawan)

KKP Butuh Harmonisasi Implementasikan Zonasi Pesisir

Published in Nasional
Rabu, 04 November 2015 12:22

Medialingkungan.com — Rencana Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memebuat zonasi wilayah pesisir melalui program Pengembangan Kawasan Kelautan dan Perikanan Terintegrasi (PK2PT) di wilayah terluar Indonesia harus diintegrasikan dan didukung Peraturan Daerah. Hal ini untuk menghindari konflik kepentingan dalam pelaksanaannya.

Direktur Perencanaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan Subandono Diposaptono, Selasa (03/11) mengatakan, terdapat enam wilayah terluar Indonesia yang masuk dalam Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, yakni meliputi wilayah Merauke (Papua), Saumlaki (Maluku), Sangihe dan Talaud (Sulawesi Utara), Natuna (Kepulauan Riau), serta Simeulue (Aceh).

Menurut Subandono, untuk mendukung pelaksanaanya, KKP menyiapkan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) yang mengacu RTRW yang telah masuk dalam perda kabupaten. "Rencana zonasi wilayah pesisir juga harus diperdakan seperti RTRW. Hanya, perda rencana zonasi di pemerintah provinsi," katanya.

Lebih lanjut ia jelaskan, grand design yang dibuat pemkab itu bisa dimuat dalam rencana zonasi “sepanjang tidak bertentangan,” katanya.

Penanggung jawab program PK2PT KKP, Krisna Samudera menungkapkan, harmonisasi rencana dilakukan di Kepulauan Sangihe: terdiri atas 105 pulau.

Pemerintah kabupaten telah menyusun grand design Gerbang Ekonomi Maritim Nusa Utara 2015-2019 sebagai bagian RTRW.

Pemerintah pusat melalui KKP memiliki kewenangan mengelola kawasan perbatasan.

Untuk mendukung itu, pemerintah pusat membangun Dagho di barat daya Pulau Sangihe sebagai Pelabuhan Perikanan Nusantara sejak 1970-an.

Kawasan pelabuhan yang telah dilengkapi fasilitas pendukung, seperti ruang pendingin ikan, unit pemasok air bersih, dan bahan bakar, selama ini mengalami kesulitan.

Pelabuhan yang menyerap dana triliunan rupiah itu dinilai kurang strategis untuk pendaratan ikan karena relatif jauh dari jalur pemasaran ke wilayah utara yaitu Filipina. Karena itu, Pelabuhan Dagho dalam pembangunan kawasan ekonomi terintegrasi hingga 2019, jelas Bupati Sangihe, HR Makagiansar pada Kompas.

Menurutnya, Pelabuhan Santiago di Tahuna yang dibangun di wilayah barat pulau sebagai pelabuhan perikanan utama untuk ekspor itu harus segera selesai untuk menghadapi pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN, Januari 2016.

Berdasarkan keterangan yang berhasil dihimpun, Januari nanti, Pelabuhan Dagho akan dioperasikan. Pengiriman produk perikanan dilakukan dengan pesawat kargo dari Bandara Naha, Pulau Sangihe. {Fahrum Ahmad}

Mengisi Liburan Dengan Menikmati Pesona Gugusan Pulau Togean

Published in Ekowista & Traveling
Jumat, 11 September 2015 20:18

Medialingkungan.com – Jika anda mencari tempat wisata yang indah namun jauh dari hiruk pikuk keramaian kota, Taman Nasional Kepulauan Togean menjadi pilihan yang tepat dalam mengisi agenda liburan anda. Terletak di Teluk Tomini, Kabupaten Tojo Una-una, Sulawesi Tengah.

Kepulauan ini merupakan gugusan pulau kecil yang terbentang di tengah Teluk Tomini. Beberapa pulau yang tersohor antara lain Pulau Malenge, Pulau Una-Una, Pulau Batudaka, Pulau Talatakoh, Pulau Waleakodi, dan Pulau Waleabahi.

Selain hamparan pasir putih dan lautnya yang biru jernih, anda juga dapat menikmati hutan mangrove dengan 33 spesies mangrove-nya. Gua-gua, sungai dan air terjun di sekitar pulau, menambah keindahan pulau ini.

Penyu hijau (Chelonia mygas) dan penyu sisik (Eretmochelys imbriocata), yang tergolong spesies penyu langka, juga terdapat di tempat ini dengan menjadikan pantainya sebagai tempat mencari makan dan berkembang biak.

Kepulauan Togean termasuk bagian penting dari segitiga terumbu karang dunia, yaitu Sulawesi, Filipina dan Papua Nugini. Spesies yang berada di bawah laut yaitu paus pilot, kima raksasa (Tridacna gigas), dan lola (Trochus niloticus), ikan pari manta, hiu karang abu-abu, dan ikan trevally mata besar, dan tentunya warna-warni karang.

Di daratan, terdapat hewan endemik Sulawesi yang dilindungi seperti tangkasi (Tarsius sp), kuskus (Ailurops ursinus), rusa (Cervus timorensis), dan ketam kenari (Birgus latro). Ada pula monyet togean (Macaca togeanus), biawak togean (Varanus salvator togeanus) dan babi rusa togean (Babyrousa babirussa togeanensis) yang hanya ada di Kepulauan Togean.

Untuk menuju ke pulau ini dari Kota Palu ditempuh dengan lama perjalanan sekitar 10 jam. Di perjalanan anda akan menikmati keindahan gunung kebun kopi dan keindahan pantai di Garis Khatulistiwa. Kemudian dilanjutkan dengan perjalanan melalui perahu dari Ampana ke Wakai dan Malenge. (Andi Tanti)

1. Wisata hutan mangrove yang terletak di Pulau Togean (Gambar: www.indonesia.travel)

2. Keindahan pasir putih di pulau Togean (Gambar: www.indonesia.travel)

 

Pulau Kecil di Barat Makassar yang Indah

Published in Ekowista & Traveling
Selasa, 04 Agustus 2015 09:43

Medialingkungan.com – Padatnya kendaraan di Kota Makassar ditambah sengatan matahari membuat perasaan menjadi tidak nyaman. Mau membuat perasaan anda terasa nyaman dan serasa sejuk tetapi bingung mau ke mana? Sebaiknya anda sesegera mungkin menjajakan kaki ke salah satu pulau terbaik yang ada di Kota Daeng yaitu Pulau Lae-lae.

Pulau Lae-lae merupakan pulau kecil di barat Makassar yang berjarak 1.5 Km dari Makassar dan kiita dapat melihatnya jelas langsung dari Pantai Losari. Pulau dengan luas 6,5 ha berpasir putih ini dihuni oleh 400 keluarga atau sekitar 2.000 jiwa.

Kita dapat berkunjung melalui dermaga kayu Bangkoa di jalan Pasar Ikan no. 28 atau dermaga yang terletak di depan Benteng Fordrotherdam dengan menggunakan speedboat/jonson dengan waktu kurang dari 15 menit dan biayanya Rp15.000 per orang untuk menaiki perahu motor agar sampai di pulau tersebut.

Di pulau Lae-lae terdapat pula situs sejarah peninggalan perang yaitu sebuah terowongan bawah tanah, yang konon katanya terhubung dengan benteng kota Makassar/Fordrotherdam.

Di sekitar pulau banyak disewakan balai-balai bambu sebagai tempat berteduh dengan harga berkisaran Rp25.000 – Rp40.000. Bagi anda yang tidak membawa bekal, jangan khawatir karena di Pulau Lae-lae sudah memiliki warung yang menyediakan makanan dan minuman yakni, ikan bakar serta makanan ringan khas Makassar yaitu, jalankote, biikandoang, ubi goring, panada, dan lainnya.

Deretan pohon dan pasir putih yang nan indah mampu membuat suasana hati menjadi tenteram dibuatnya. Laut yang biru juga membuat para penggemar penyelam dan yang hobi snorkeling di Pulau Lae-lae sangat cocok menjadi pilihan utama untuk melakukan liburan keluarga atau salah satu tempat refreshing.

Di Sisi selatan Pulau Lae-lae anda dapat menikmati dan berjalan dibebatuan pemecah ombak yang berbentuk pyramid segita.

Konon asal muasal dari nama Pulau Lae-lae sendiri menurut cerita ada sebuah kapal bermuatan orang China yang terdampar di karang berpasir. Ketika itu orang China memanggil-manggil dan berteriak dengan bahasa China dengan sebutan Lae-lae yang artinya kemari-kemari, semenjak itulah Tanjung itu disebut Tanjung Lae-lae dan sekarang menjadi Pulau Lae-lae. (Angga Pratama)

1. Keindahan bawah laut Pulau Lae-lae (Gambar: panduanwisata)

2. Dermaga kayu bangkoa beserta transportasi laut untuk menuju Pulau Lae-lae (Gambar: googleusercontent)

Medialingkungan: Visit Pulau Lae-lae, Makassar - Wonderful Indonesia

 

Misteri dan Keindahan Pulau Nias

Published in Ekowista & Traveling
Rabu, 22 Juli 2015 20:36

Medialingkungan.com – Suasana liburan kini telah berlalu. Namun, liburan masih menyisihkan waktu. Semarak keakraban sanak family begitu terasa di mall-mall dan pusat kota di berbagai tempat. Bukan hanya mall yang menjadi tujuan utama untuk berlibur, Medialingkungan menawarkan destinasi yang seru yaitu Pulau Nias dijamin jauh lebih menarik untuk disambangi.

Pulau Nias adalah sebuah pulau yang terletak di sebelah barat pulau Sumatera, pulau ini dihuni oleh mayoritas suku Nias (Ono Niha) yang masih memiliki budaya megalitik. Daerah ini merupakan obyek wisata penting seperti selancar (surfing), rumah tradisional, penyelaman, dan yang tak kalah penting fahombo (lompat batu).

Berkunjung ke pulau ini serasa menelusuri kehidupan masa lalu, waktu seakan berhenti dipagari budaya megalit yang masih lestari. Di tengah Samudera Hindia yang luas itu, pulau ini menjadi rumah bagi budaya zaman batu kuno yang mengagumkan untuk dikunjungi.

Untuk bepergian ke Pulau Nias membutuhkan kesabaran karena angkutan umum sulit diakses. Di Gunungsitoli , terminal bus berjarak 1,5 km ke Selatan dari pusat kota. Anda juga dapat menggunakan minibus atau opelet yang berangkat dari Gunungsitoli  menuju ke arah Selatan pasar Teluk Dalam. Perjalanan dari Gunungsitoli  menembus pinggir pantai dan perbukitan menuju Teluk Dalam, Nias Selatan.

Gunungsitoli  merupakan pintu gerbang ke Pulau Nias. Bandara Binaka berjarak 15 km dari kota. Untuk mencapainya ada beberapa rute yaitu melalui Kota Medan atau Padang. Dari Medan harus melalui udara dengan Merpati dan SMAC. Setiap harinya setidaknya ada dua penerbangan, pagi dan siang. Tarifnya berkisar Rp500.000,- sedangkan menggunakan kapal fery cepat selama 3 jam dengan tarif termahal Rp100.000,-.

Kebanyakan akomodasi di Pulau Nias terbilang sederhana. Biasanya itu berupa tempat tinggal penduduk atau losmen. Di Gunungsitoli  ada banyak restoran kecil di sepanjang jalan raya-nya.

Berbagai pantai indah bisa Anda nikmati jika berkunjung ke Nias. Di antaranya, Teluk Dalam yang tinggi ombaknya bisa mencapai lima meter dan Pantai Sorake yang airnya jernih kebiruan. Kabarnya, pantai ini adalah tempat terbaik untuk berselancar setelah Hawaii. Selain itu, banyak juga turis yang berselancar di Pulau Asu, Pulau Bawa, dan Pulau Telo. Anda yang suka menyelam juga bisa mencicipi keindahan dasar laut di Pantai Lagundri.

Tips bagi Anda, gunakan kata Ya’ahowu! Sebagai sapaan bertemu orang setempat di pulau Nias. Jangan ragu menegur masyarakat sekitar karena mereka akan menjawab dengan antusias. Kata ini juga sanggup menjadi kalimat pembuka yang efektif apabila Anda ingin bertanya atau berdialog dengan penduduk di Pulau Nias. (Angga Pratama)

1. Tampak dari laut Pulau Nias (Gambar: wp)

2. Lompat batu hal yang masih dilakukan oleh budaya nias (Gambar: ammarhamzah9)

Medialingkungan: Visit Pulau Nias, Sumatra - Wonderful Indonesia

Pantai Ujung yang Tersembunyi di Bulukumba

Published in Ekowista & Traveling
Rabu, 17 Juni 2015 09:00

Medialingkungan.com – Pantai Bira, Bara, dan Apparalang yang berada di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan memang sangat menarik untuk dijadikan salah satu pilihan pertama untuk berlibur. Namun, di Bulukumba juga menyimpan satu pantai yang tidak kalah menarik yaitu Pantai Ujung terletak di Kecamatan Bontotiro mampu memanjakan mata anda dan membuat hati anda jadi tenang dan rileks jika berada di pantai ujung.

Dinamakan pantai ujung, karena pantai ini terletak paling ujung, pantai ini tidak memiliki pasir putih, namun hanya hamparan laut dan tebing disekelilingnya. Warna dari air pantai ujung begitu jernih, batu karang terlihat sangat jelas dari ketinggian, begitupun berbagai jenis ikan.

Untuk menuju ke pantai ujung, anda akan mengalami rintangan dengan jalanan yang kurang baik dan juga dikelilingi oleh hutan yang belum terjamak dari tangan-tangan manusia.

Akses menuju ke pantai ini masih sangat kurang, anda dianjurkan menggunakan kendaraan beroda dua, karena jalanan tidak cocok untuk kendaraan beroda empat. Sebaiknya anda pergi pada saat musim panas, karena jika musim hujan, jalanan akan sangat licin, ombak pantai sangat besar begitu juga angin sangat kencang. Namun sesampai di sana, hati anda akan berdengung kencang akibat kagum akan keindahan pantai ujung tersebut.

Pantai ini sangat cocok bagi anda yang suka selfie-selfie, dan bagi model ataupun fotografer bias untuk mencoba melakukan pemotretan di pantai ujung ini. (Andi Tanti)

Pesona pantai ujung yang berada di Kecamatan Bontotiro, Bulukumba, Sulawesi Selatan (Gambar: Andi Tanti

 

#TelusurIndonesia #WonderfulIndonesia

 

Masyarakat Paloh Gelar Festival Pesisir 2015

Published in Event & Komunitas
Rabu, 27 Mei 2015 22:27

Medialingkungan.com – Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bekerjasama dengan World Wild Fund (WWF) menginisiasi kegiatan Festival Pesisir Paloh (FESPA) 2015 dengan mengusung tema ‘menjaga penyu di batas negeri’.

Kegiatan yang nantinya digelar pada tanggal (28-30 Mei 2015) tersebut akan dipusatkan di Desa Temajuk, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat.

Seperti yang dilansir dalam situs resmi WWF Indonesia, bahwa rangkaian Festival ini dilaksanakan dalam rangka merayakan beberapa hari penting seperti hari Penyu sedunia yang jatuh pada tanggal 23 Mei, hari lingkungan hidup pada tanggal 5 Juni mendatang serta tentunya dalam rangka Musim Puncak Peneluran Penyu Paloh 2015.

Mengingat, kegiatan ini bertepatan dengan puncak masa peneluran penyu di kecamatan Paloh yang akan berlangsung hingga September mendatang. Dimana Kecamatan yang terletak di bagian utara Kabupaten Sambas ini merupakan pantai peneluran penyu terpanjang di Indonesia yakni 63 kilometer.

Sebelumnya, masyarakat Paloh telah melakukan pesta untuk merayakan puncak peneluran penyu tersebut yang dikenal dengan nama Festifal Lempar Telur Penyu. Namun karena populasi penyu yang kian berkurang, sehingga terhenti sejak sepuluh tahun lalu.

Olehnya itu, Fespa 2015 ini akan diselenggarakan tanpa melanggar norma konservasi, sekaligus mempromosikan potensi pariwisata pesisir. Tradisi dan budaya lokal serta upaya penyadartahuan masyarakat merupakan satu aspek yang akan ditekankan.

Kegiatan wisata seperti wisata bawah laut, pelepasan tukik, hingga wisata malam saat penyu sedang bertelur menjadi kegiatan yang disuguhkan kepada pengunjung. Selain kegiatan itu, acara ini pula akan dimeriahkan dengan kegiatan pentas budaya dan beberapa perlombaan hingga pemilihan duta penyu paloh 2015.

Selain untuk mempromosikan potensi pesisir Paloh, kegiatan ini diharapkan mampu memicu peningkatan peran Pemerintah, masyarakat pesisir, dan Instansi terkait untuk terlibat dalam kegiatan konservasi pesisir dan penyu laut, hingga pengawasan dan penegakan hukum pelestarian spesies penyu dan budidaya perikanan.

Sementara itu, dikutip dari Kompas.com, Dwi Suprapti, Ketua Panitia Fespa 2015 mengungkapkan 21 lembaga baik pemerintah maupun swasta turut serta dalam Fespa 2015 ini. (Irlan)

BIG Akan Verifikasi 3.000 Pulau Di Indonesia

Published in Nasional
Selasa, 21 April 2015 11:14

Medialingkungan.com – Pulau di Indonesia yang saat ini diketahui nama dan titik koordinatnya baru sekitar 13.466 pulau. Jumlah ini akan terus betambah dikarenakan masih ada sekitar 3.00 pulau yang belum diverifikasi nama dan titik koordinatnya dan kemungkinan besar akan mencapai 17.000 pulau di Indonesia.

Kepala Badan Informasi Geospasial (BIG), Priyadi Kardono mengungkapkan, pemetaan dan penamaan secara koordinat untuk pulau-pulau sangat penting bagi Indonesia.

"Pulau-pulau sekarang ini ada yang pulau nilai ekonominya sangat tinggi untuk pariwisata. Jika pulau-pulau kecil ada penduduknya, pemerintah pun harus mengetahuinya," ujar Priyadi, seperti yang dilansir beritasatu.

Priyadi mengatakan, BIG kini bekerjasama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk mempermudah pencaharian pulau-pulau yang hilang dan pemetaan zonasi juga akan segera dilakukan. “Skala pemetaan bisa 1:25.000 hingga 1:10.000. Untuk skala 1:10.000 bahkan bisa digunakan untuk penjelasan budidaya pesisir, keramba jaring apung dan jalur pelayaran,"ucapnya.

Pemetaan wilayah pesisir tidak hanya untuk memverifikasi hanya keberadaan pulau yang hilang. Namun, dapat juga sebagai pijakan rencana pembangunan 24 pelabuhan baru di Indonesia dan program tol laut, katanya.

Harapan Priyadi, semoga kegiatan menghitung garis pantai nantinya lebih mudah dan cepat.

Indonesia saat ini merupakan negara kedua yang memiliki garis pantai terpanjang di dunia setelah Kanada. Panjang garis pantai Indonesia 99.093 kilometer dan Kanada 202.080 kilometer. Guna menghasilkan peta lebih detail lagi pemanfaatan citra satelit mampu menghasilkan peta skala 1:5000. (Angga Pratama)

Leonardo Dicaprio Berencana Bangun Restorative Island Ramah Lingkungan

Published in Internasional
Senin, 06 April 2015 19:41

Medialingkungan.com – Artis Leonardo DiCaprio saat ini berencana membangun sebuah resort yang ramah lingkungan di pulau kecil di Belize. Ia tertarik pada wilayah Blackadore Caye di sebuah pulau yang luasnya 104 hektar.

Aktor The Wolf of Wall Street ini membeli daerah tersebut dengan harga US$1,75 juta  atau Rp22,6 miliar setelah menjual kediaman pribadinya senilai US$15 juta atau setara Rp194 miliar, seperti dilansir laman Metro.co.uk (06/04).

Dia membelinya sekitar 10 tahun yang lalu, kini tengah bekerja sama dengan New York Executive Property, Paul Scialla untuk rancangan pembangunan yang ramah lingkungan yang diprediksi rampung 2018 nanti. Ia menjelaskan, begitu ingin melakukan sesuatu yang dapat mengubah dunia.

"Aku tidak bisa pergi ke Belize dan membuat sesuatu jika tidak karena gerakan lingkungan," ujar Leonardo.

Bintang film Titanic itu merencanakan sebuah resort yang akan diberi nama “Restorative Island” yang dihiasi vila dan kolam renang.

Tidak akan ditemui botol plastik yang berserakan di sana karena itu dilarang, vila dibangun di platform yang berada di atas air, juga dengan terumbu karang buatan untuk melindungi kehidupan laut dan menanam rumput laut agar mempercantik hiasan laut, katanya.

Pria 40 tahun itu mengungkapkan, tujuan dibangunnya resort ramah lingkungan ini untuk mengembalikan kerusakan laut akibat penangkapan ikan berlebihan, pengikisan pantai dan pembalakan liar. “Para tamu yang datang, nantinya akan menikmati keindahan matahari tenggelam atau sunset,” ucapnya.

Leonardo mengatakan, para wisatawan yang datang nantinya juga akan diikutsertakan pada orientasi ekologi sebelum diizinkan mengunjungi resort. Ia menambahkan, tujuannya, menciptakan sesuatu yang tidak dibuat-buat seperti gambar liburan Hawaii, melainkan tempat bersejarah yakni kebudayaan suku Maya dengan pendekatan yang lebih modern.

Pemimpin Arsitek dan Desainer, Jason McLennan mengatakan, mereka ingin mengubah pandangan para wisatawan. Pengembangan yang berbasis di New York ini direncanakan bukan pada tahun 2018 di pulau Central American yang bisa dijangkau selama 45 menit dengan perahu dari Belize City, ujarnya. (Angga Pratama)

Ingin Bermain Bersama Bayi Hiu, Kunjungi Pulau Tinabo

Published in Ekowista & Traveling
Kamis, 26 Februari 2015 16:45

Medialingkugan.com – Pulau kecil yang berada di kepulauan Taka Bonerate, Propinsi Sulawesi Selatanbernama Pulau Tinabo yang memiliki panjang 1,5 kilometer dan lebar 500 meter. Pulau Tinabo merupakan pilihan paling tepat untuk melakukan scuba-diving ataupun snorkelling di South Sulawesi.

Seluruh pulau dikelilingi oleh pantai berpasir putih, air laut yang selalu jernih sepanjang waktu, semakin dalam warna airnya berturut-turut menjadi kehijauan, biru muda, hingga biru tua menuju ke bagian laut yang lebih dalam.

Bagi Anda yang hobi menyelam, kawasan ini sangat cocok untuk wall-dive karena ada banyak kawasan dengan kontur dinding/jurang, area yang miring melandai hingga pulau-pulau bawah air.

Keindahan bawah air itu tidak hanya untuk penyelam, banyak tempat juga yang dapat dilihat keindahannya dari 0-5 meter. Jernihnya air dan banyaknya ikan-ikan kecil warna warni serta terumbu karang yang beragam menjadi surga tersendiri bagi para snorkeler.

Di pulau ini kita juga bisa menyaksikan Baby Shark (bayi hiu) jenis Black Tip di tepian pantai yang berenang dengan bebasnya tanpa harus di kurung.

Pulau Tinabo memiliki fasilitas resort di dalamnya yang bernaman Tinabo Dive Resort dengan harga Rp.200.000/malam. Biaya untuk diving di pulau tersebut Rp 300.000/orang sudah termasuk semua peralatan diving.

Untuk menuju ke pulau indah ini, dari bandara Sultan Hasanuddin (Kota Makassar) menuju terminal Mallengkeri (Makassar) menggunakan mobil sewa yang menuju ke pelabuhan Bira (Bulukumba) menempuh waktu sekitar 4-5 jam. Dari Pelabuhan Bira perjalanan dilanjutkan dengan menyeberang Ferry sekitar 2 jam ke Pelabuhan Pamatata (Selayar). Dengan masih menggunakan bus yang sama, perjalanan dilanjutkan menuju kota Benteng dengan kisaran waktu 1-2 jam.

Dari Benteng ke Pelabuhan Pattumbukan menggunakan mobil sewaan dengan lama perjalanan 1,5 jam. Setelah itu, perjalanan laut menuju Pulau Tinabo menggunakan kapal kayu jolloro dengan waktu tempuh sekitar 4-5 jam atau menggunakan kapal cepat (speed boat) dengan waktu tempuh sekitar 1-2 jam. (TAN)

Gambar 1: Kejernihan air laut Pulau Tinabo yang terletak di kepulauan Takabonerate, Sulawesi Selatan.

Gambar 2: Bayi Hiu yang ada di Kepulau Selayar, Sulawesi Selatan.

Gambar 3: Keindahan Bawah Laut yang dimiliki Pulau Tinabo.

Medialingkungan: Visit Pulau Tinabo - Wonderful Indonesia

 

Halaman 1 dari 3

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini