medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Perubahan Iklim Ancam Populasi Capung

Published in Informasi & Teknologi
Selasa, 12 Juli 2016 20:49

Medialingkungan.com – Dampak dari perubahan iklim pada kehidupan sehari-hari kini ini makin terasa. Misalnya, curah hujan yang kian tinggi, musim kemarau yang lebih panjang, fenomena El Nino dan La Nina, dan sekarang juga telah berdampak pada penurunan populasi capung.

Capung merupakan serangga akuatik, dimana hidupnya berganutng pada kualitas air. Capung mengalami tiga fase utama dalam hidup yaitu telur, nimfa, dan capung dewasa (metamorfosis tidak sempurna). Dalam keseluruhan fase tersebut, dua fase di antaranya mengharuskan mereka hidup di dalam air yaitu ketika menjadi telur dan nimfa.

Sebagian besar capung hanya akan tinggal di lingkungan bersih sehingga bisa menjadi indikator kualitas air. Jika air sudah tercemar bahan beracun, capung tidak akan ada di sana. Ketika kondisi perairan tercemar, siklus hidup capung terganggu. Populasinya akan menurun. Begitu pula jika air di habitat mereka mengalami peningkatan suhu atau penurunan kualitasnya.

Beberapa sumber menyebut saat ini ada sekitar 6.000 jenis capung di seluruh dunia. Indonesia memiliki sekitar 750 – 900 jenis atau 12,5 sampai 15 persen dari total jenis capung di seluruh dunia. Banyaknya jenis capung Indonesia hanya kalah oleh Brazil.

Saat ini,belum ada riset khusus bagaimana dampak perubahan iklim terhadap populasi capung di Indonesia.Riset tentang dampak perubahan iklim terhadap capung di dunia pun masih sangat terbatas. Salah satunya Jurnal BioRisk 5 edisi khusus pada 2010 yang membahas topik tersebut. Jurnal ini menyampaikan laporan peneliti Eropa, Afrika, dan Amerika tentang bagaimana dampak perubahan iklim di beberapa negara.

Kesimpulan para peneliti tersebut yakni, capung memang bisa menjadi indikator dampak perubahan iklim. Jeffrey A. McNeely dalam pengantar jurnal menyatakan, capung bisa menjadi alat untuk memantau perubahan iklim dengan relatif mudah karena beberapa alasan.Capung mudah diidentifikasi, mereka sangat sensitif terhadap perubahan termasuk iklim, tiap spesies memiliki distribusi berbeda-beda, dan mereka berkembang biak relatif cepat.

“Penelitian terkini juga menunjukkan bahwa penyebaran capung juga sangat sensitif terhadap perubahan iklim,” tulis Jeffrey.

Josef Settele dalam jurnal yang sama menyatakan perubahan iklim termasuk salah satu dari empat penyebab utama berkurangnya keragaman capung. Tiga penyebab lain adalah penggunaan bahan kimia, invasi biologis, dan hilangnya penyerbuk.

Pernyataan para ahli capung dunia tersebut senada dengan jawaban Wahyu Sigit Rhd, pendiri Indonesian Dragonfly Society (IDS), komunitas pecinta capung. Perubahan iklim pasti berdampak terhadap populasi capung.“Logika saja, kita sekarang pun merasa lebih tidak nyaman. Gerah dengan perubahan suhu. Apalagi capung, serangga yang lebih sensitif terhadap perubahan,” kata Wahyu. Dia memberikan contoh satu spesies capung di Banyuwangi, Jawa Timur yang dulu ada tapi sekarang tidak ada lagi.

Suputa, ahli serangga dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, menyatakan perubahan iklim jelas menyebabkan kenaikan suhu air, yang mempengaruhi kadar oksigen di dalamnya. Makin panas air, maka makin sedikit kadar oksigennya. “Otomatis capung akan susah untuk hidup,” ujar Suputa.

Dilansir oleh MongabayIndonesia, telah dilakukan pengamatan di tiga wilayah di Bali yang menunjukkan adanya hubungan antara perbedaan suhu dengan penurunan populasi capung.Selain karena banyaknya penggunaan bahan kimia dalam pertanian, juga karena perubahan iklim.

Lokasi pertama di persawahan Banjar Junjungan, Kecamatan Ubud, Gianyar, Bali. Berdasarkan pengamatan secara amatir pada Juni 2015 dan Oktober 2015, di kawasan ini ditemukan jenis Capungsambar hijau (Orthetrum sabina), Capungtengger jala tunggal (Neurothemis ramburii), Capung sayap oranye (Brachythemis contaminata), dan Capungsambar garishitam (Crocothemis servilia).

Dari empat jenis capung itu, hanya ditemukan 12 ekor di lahan seluas kurang lebih 3 hektar.

“Padahal, zaman saya kecil dulu, kalau bulan-bulan ini capungnya sudah tak terhitung lagi. Sekarang paling banyak hanya separuhnya,”kata Ngakan Made Pinia, petani di Junjungan.

Menurut Ngakan, makin hilangnya capung di desanya terjadi bersamaan dengan makin meningkatnya suhu di Junjungan.

Lokasi kedua di Desa Peguyangan, Denpasar Utara. Dari pengamatan di sini, ditemukan spesies-spesies yang cenderung lebih adaptif terhadap perubahan lingkungan yaitu Orthetrum sabinaBrachythemis contaminata, dan Crocothemis servillia.Jumlah capung dari tiga spesies itu tak lebih dari 10. Padahal, pengamatan dilakukan tiga kali pada waktu berbeda-beda.

Pengamatan ketiga di Jatiluwih, Tabanan. Jatiluwih merupakan kawasan persawahan di kaki Gunung Batukaru, salah satu gunung di Bali. Hasil satu kali pengamatan pada Oktober 2015 menunjukkan di sini terdapat lebih banyak spesies capung yang lebih sensitif terhadap perubahan lingkungan. Empat spesies yang ditemukan di Denpasar dan Ubud juga ada di sini dengan jumlah lebih banyak.

Selain empat jenis yang ditemukan di Denpasar dan Ubud, ada lima jenis lain yang ditemukan di kawasan Jatiluwih yaitu Capungsambar cincinhitam (Onychothemis culminicola), Capungtengger biru (Diplacodes trivialis), Capungsambar merah (Orthetrum pruinosum), Capungjarum centil (Agriocnemis femina), dan Capungjarum gelap (Prodasineura autumnalis).

Umumnya mereka terbang atau hinggap di sekitar saluran irigasi. Dari sisi jumlah, capung di Jatiluwih juga lebih banyak. Jumlahnya lebih dari 30-an yang tersebar di beberapa titik.

Perbedaan beragam jenis maupun populasi capung di Denpasar, Ubud, dan Jatiluwih bisa jadi berhubungan pula dengan perbedaan suhu di tiga wilayah tersebut. Menurut data BMKG, suhu Denpasar berkisar 25,4 sampai 28,5 derajat Celcius, Ubud berkisar 24,1 sampai 25,7 derajat Celcius, sedangkan Jatiluwih antara 24 sampai 30 derajat Celcius.

Secara umum, Denpasar yang berada di dataran rendah memiliki kelembapan 58 sampai 85 persen. Ubud di tengah pulau memiliki kelembapan sekitar 65 sampai 90 persen. Adapun Jatiluwih, di kaki Gunung Batukaru, Tabanan, memiliki kelembapan 67 sampai 90 persen.

Dari data suhu dan kelembapan tiga wilayah itu terlihat bahwa daerah relatif lebih dingin dan lebih lembap memiliki jenis maupun jumlah capung lebih banyak. Selain faktor suhu, kelestarian lingkungan termasuk dari alih fungsi lahan dan bahan kimia pertanian juga amat berperan. Namun, nyatanya, daerah-daerah dingin seperti Jatiluwih pun kini kian mengalami peningkatan suhu serupa Denpasar dan Ubud.

Jika tidak ada mitigasi lebih serius dalam menangani perubahan iklim, bisa jadi capung di tiga wilayah itu akan menjadi yang terakhir.{Muchlas Dharmawan/Mongabay Indonesia}

Petugas Taman Nasional Temukan Jejak Harimau di Semeru

Published in Nasional
Kamis, 28 April 2016 08:40

Medialingkungan.com – Petugas Taman Nasional Bromo Tengger Semeru menemukan jejak harimau di jalur pendakian Gunung Semeru, Jawa Timur. Jejak harimau tersebut terdapat di kawasan Savana Oro-Oro Ombo.

Kepala Seksi Pengelolaan Wilayah III Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Budi Mulyanto mengatakan jejak tersebut terlihat saat petugas melakukan survei jalur pendakian Gunung Semeru belum lama ini. Survei dilakukan sebelum petugas membuka secara resmi jalur pendakian yang sempat ditutup.

“Ada jejak binatang mamalia besar bertebaran di Oro-oro Ombo. Belum tahu itu jejak harimau tutul atau harimau besar," ujar Budi, dikutip dari Tempo.

Penemuan jejak harimau menandakan bahwa satwa liar Taman Nasional leluasa bergerak di jalur pendakian. Ketika pendakian ditutup untuk pemulihan ekosistem, satwa liar ini akan bebas bepergian kemana-mana tanpa harus berpapasan dengan manusia.

Sebelumnya, pada musim pendakian tahun lalu sekelompok pendaki juga sempat menjumpai harimau di jalur pendakian. Kejadian ini sempat menggegerkan pendakian Semeru. Para pendaki bersembunyi karena takut diserang.

Selain penemuan jejak harimau, petugas juga menjumpai jalur pendakian yang tertimbun longsor serta terhalang pohon tumbang. Namun secara umum jalur tersebut sudah layak untuk dilewati para pendaki karena jalur yang terkena longsor telah dibenanhi dan pohon tumbang sebagian juga telah dibersihkan.

Terhadap pohon tumbang yang merintangi jalan, petugas sengaja tidak menyingkirkan seluruhnya. Hal itu dilakukan agar tantangan para pendaki kian bertambah. Keberadaan pohon yang merintangi jalur dinilai menjadi warna tersendiri.

Jalur pendakian akan di buka awal bulan mei mendatang. Namun sebelum resmi membuka jalur pendakian, petugas Taman Nasional lebih dulu berkoordinasi dengan Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geologi. {Andi Wahyunira}

Mata Burung, Metode Baru Hitung Populasi Penguin

Published in Informasi & Teknologi
Rabu, 20 April 2016 19:17

Medialingkungan.com – Para ilmuan selama ini masih mengalami kesulitan untuk menghitung jumlah populasi penguin di Antartika serta di pulau-pulai sekitar. Maka dari itu, mereka membutuhkan bantuan teknologi satelit agar dapat menghitung jumlah penguin secara benar melalui potret udara.

Peneliti dari Inggris, Australia, dan Amerika kini manfaatkan satelit untuk melacak dan menghitung jumlah penguin melalui sudut pandang mata burung.

Proses untuk mengetahui populasi penguin dengan mencari kotoran berwarna coklat di atas es dan menentukan lokasi koloni-koloni individual. Gambar dengan resolusi tinggi kemudian untuk mencari dan menghitung penguin yang terlihat.

Pendekatan dengan bantuan teknologi satelit ini dilakukan untuk memantau populasi emperor penguin, terutama kesehatan jangka panjang. Perkiraan cuaca menyebabkan prediksi turunnya jumlah populasi penguin di habitat aslinya. Terutama jika Antartika semakin menghangat, yang menyebabkan melelehnya es di lautan, yang merupakan sarang dan tempat para penguin mencari makan.

“Jika ingin mengetahui apakah emperor penguin terancam punah akibat perubahan iklim. Kita harus tahu berapa jumlah penguin itu yang ada saat ini. Dan kami punya metodologi untuk memonitor dari tahun ke tahun demi burung itu,” kata Peter Fretwell dari British Antartic Survey, seperti yang dilansir BBC, Rabu (18/04).

Penelitian ini memberikan informasi dasar terkait populasi penguin. Jumlah populasi burung ini terbilang sangat mengejutkan, dikarenakan meningkat dua kali lipat dan melebihi perkiraan sebelumnya, ujarnya.

Freetwel mengungkapkan, meskipun terbilang mudah menemukan kotoran penguin di permukaan es yang putih, tapi agak sulit menghitung jumlah penguin secara benar. Terutama dalam menghitung jumlah individu di kerumunan, walaupun menggunakan gambar satelit yang memiliki resolusi tinggi.

Sedangkan Tom Hart, dari University of Oxford mengatakan, dengan menggunakan metode itu adalah langkah maju dikarenakan dilakukan secara aman dan efisien.

“Dampak dari penelitian ini juga sedikit terhadap lingkungan,” ucap Tom. {Angga Pratama}

“Lagi”, Gajah Sumatera Ditemukan Mati di Lahan Sawit

Published in Nasional
Rabu, 20 April 2016 18:35

Medialingkungan.com – Seekor gajah jantan sumatera ditemukan mati di areal perkebunan kelapa sawit di Desa Jambo Rehat, Kecamatan Banda Alam, Aceh Timur, pada minggu (17/04). Gajah tersebut diperkirakan baru berumur 4-5 tahun.

Kepala seksi Konservasi Wilayah I BKSDA, Dedi Irvansyah mengatakan, “Hampir semua wilayah perkebunan dan pemukiman di kawasan Aceh Timur merupakan jalur lintas gajah Sumatera, sehingga tidak bisa dipungkiri masih ada konflik antara penduduk dengan gajah-gajah liar tersebut,” seperti yang dikutip dari Metrotvnews.com.

Hingga saat ini pihaknya masih belum mengetahui penyebab pasti kematian gajah tersebut. Namun, Dedi mengatakan BKSDA masih terus melakukan autopsi bersama dari pihak kepolisian dengan mengambil sampel darah, kotoran dan pembedahan gajah untuk diteliti lebih lanjut.

Kasat Reskrim Polres Aceh Timur, AKP Budi Nasuha mengatakan, “Hasil pemeriksaan sementara, gajah jantan ini diperkirakan mati dua hari yang lalu.”

“Sekitar satu minggu kedepan baru bisa diketahui secara pasti apa penyebab kematian satwa yang dilindungi itu,” ungkapnya.

AKP Budi menambahkan, “Setelah proses pembedahan berakhir, kemudian diambil gading yang panjangnya sekitar 3 cm dan dibawa ke kantor BKSDA Aceh.” {Iswanto}

Kenari Leher Hitam Dinyatakan Punah

Published in Internasional
Senin, 18 April 2016 17:25

Medialingkungan.com – Spesies burung Kenari leher hitam di New South Wales Selatan Australia dinyatakan telah punah oleh ilmuwan. Burung jenis ini memiliki ciri bentuk kepala besar, berbadan pendek, dan paruh lancip serta ekor bagian atasnya yang berwarna putih. Dikutip Detiknews.com (17/04).

Presiden klub pengamat dan pemburu burung, Allan Richardson mengatakan, "Status kepunahan burung ini sangat menyedihkan, banyak dari jenis ini terancam menurun populasinya.’’

"Hanya sedikit dari spesies burung kita yang terancam menurun populasinya dalam keadaan baik, sehingga berlanjutnya kepunahan semacam ini tidak bisa kita hindari lagi dan kita akan melihat beberapa burung-burung asli kita lenyap dari beberapa daerah.’’ ungkapnya.

Pengembalaan ternak, perambahan dan pertambangan dituding menjadi salah satu penyebab kepunahan burung jenis ini.

Komite ilmuwan New South Wales mengungkapkan, "Hilang dan terdegradasinya habitat tampaknya menjadi ancaman besar bagi kelestarian burung-burung asli di kawasan kami. Perubahan kebijakan seputar kebakaran maupun penyebaran gulma dan rumput eksotis juga telah menempatkan burung ini dibawah tekanan.’’

Richardson menambahkan, "Sejarah pengelolaan lahan sudah berlangsung lama dan beberapa burung bergantung pada rumput, salah satunya yaitu burung jenis kenari dada hitam ini yang akhirnya kesulitan bersaing mendapatkan makanannya.’’

Komite ilmiah mengatakan, burung jenis ini memenuhi syarat untuk masuk dalam daftar spesies yang yang telah dianggap punah karena tidak tercatat lagi dihabitatnya, meskipun telah bebarapa kali survey dilakukan yang bertujuan menemukan burung ini sudah dilakukan. {Iswanto}

Harimau Dunia Meningkat Untuk Pertama Kalinya di Abad Ini

Published in Internasional
Jumat, 15 April 2016 15:19

Medialingkungan.com – Sejak tahun 1900, populasi global harimau liar di dunia mencapai angka 100.000 ekor, namun jumlah itu menurun tiap tahun. Tahun 2010, sensus global yang dikumpulkan dari survei-survei harimau nasional dan International Union for Conservation of Nature menunjukkan jumlah harimau liar dunia mencapai titik terendah sepanjang masa, yaitu tersisa 3.200 ekor. Namun ada kabar gembira, untuk pertama kalinya di abad ini, jumlah harimau liar dunia meningkat, saat ini menjadi 3.890 ekor harimau, seperti yang dilaporkan survei terbaru World Wildlife Fund (WWF) dan Global Tiger Forum.

“Kami sangat terkejut oleh angka yang ditunjukkan, hal ini membuktikan tentang apa yang kami pikir telah terjadi berkat upaya konservasi,” kata Ginette Hemley, Wakil Presiden Senior untuk Konservasi World Wildlife Fund (WWF), seperti yang dilansir oleh National Geographic.

Peningkatan jumlah harimau ini tentunya didorong oleh keberhasilan dari upaya-upaya konservasi yang telah dilakukan seperti di India, Rusia, dan Nepal. Sehari setelah sensus global tahun 2010 dirilis, pemimpin-pemimpin dari 13 negara bertemu di New Delhi, India, dan berkomitmen untuk melipatgandakan populasi harimau pada tahun 2022.

Berikut adalah data tahun 2014, jumlah harimau berdasarkan Negara:

Para Ahli mengatakan perhitungan pemerintah Myanmar yaitu 85 Harimau pada tahun 2010 tidak dimasukkan karena data dianggap out of date atau sudah tidak mutakhir.

Walaupun begitu, Harimau liar dunia masih tetap terancam mengalami kepunahan global. Harimau dianggap sebagai spesies yang terancam punah, di bawah ancaman konstan dari hilangnya habitat serta ancaman dari pemburu mencari bagian tubuh mereka untuk dijual di pasar gelap.

Telah terjadi di Kamboja, setelah diumumkan bahwa di Negara tersebut dinyatakan Harimau telah punah secara fungsional dalam perbatasannya, yang berarti tidak ada lagi Harimau di tiap peternakan di alam liar negara tersebut.

Di Indonesia juga telah terlihat angka penurunan yang tinggi. Hal ini tentunya dipengaruhi akibat perusakan hutan yang besar untuk memenuhi permintaan produksi minyak kelapa sawit, serta pulp dan kertas, sehingga habitat harimau semakin tidak mampu memenuhi populasi Harimau. {Muchlas Dharmawan}

Kupu-Kupu Ini Miliki Penglihatan Melebihi Kemampuan Manusia

Published in Informasi & Teknologi
Rabu, 09 Maret 2016 23:10

Medialingkungan.com – Selain memiliki warna sayap yang indah sehingga membuatnya menarik bagi banyak orang, ternyata kupu-kupu juga memiliki kelebihan lain. Salah satu kelebihan kupu-kupu adalah pada penglihatannya yang melebihi kemampuan meilhat mata manusia.

Seperti yang dilansir sciencemag.org, Graphium sarpedon, salah satu jenis kupu-kupu Swallowtail ternyata memliki bidang penglihatan yang lebih luas jika dibandingkan dengan manusia. Selain itu, kupu-kupu jenis ini juga mampu melihat objek yang bergerak cepat serta dapat membedakan sinar ultraviolet.

Berasarkan hasil riset para ilmuan yang juga dipublikasikan dalam Frontiers in Ecology and Evolution menyebutkan setidaknya kupu-kupu jenis ini memiliki 15 jenis fotoreseptor atau sel saraf di retina mata yang digunakan untuk mendeteksi cahaya yang diperlukan untuk menangkap warna.

Penemuan ini menjadi menarik dikarenakan kebanyakan spesies serangga hanya memiliki 3 kelas fotoreseptor. Bahkan manusia hanya memiliki 3 sel kerucut (fotoreseptor) untuk melihat jutaan warna. Sedangkan kupu-kupu jenis ini hanya menggunakan 4 dari 15 sel sarafnya untuk dapat  menangkap warna tersebut.

Para ilmuan tersebut menduga bahwa 11 fotoreseptor lainnya dirancang untuk melihat hal-hal spesifik terkait kepentingan mereka bertahan hidup. Misalnya, dengan mata mereka dapat waspada terhadap sedikit variasi dalam spektrum biru-hijau, kupu-kupu laki-laki dapat melihat dan mengejar saingan mereka. {Irlan}

Guru SMP Serahkan Orangutan & Buaya Peliharaannya ke BKSDA

Published in Nasional
Selasa, 13 Oktober 2015 10:24

Medialingkungan.com – Masdin, guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kecamatan Kuala Mandor-B, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat (Kalbar), menyerahkan seekor anak orangutan dan buaya yang dipeliharanya kepada pihak Balai Besar Konservasi dan Sumber Daya Alam (BBKSDA) Kalbar secara sukarela.

"Masdin akhirnya menyerahkan anak orangutan dan buaya peliharaannya kepada kami, Sabtu (10/10), setelah sempat tertunda beberapa kali," kata Komandan Polisi Hutan BBKSDA Kalbar, Azmadi di Pontianak, Senin (12/10).

Masdin mengaku, orangutan berjenis kelamin betina itu telah dipeliharanya selama enam tahun. Ia membeli anak orangutan itu dari warga yang menemukannya di hutan.

Awalnya pihak BBKSDA menemui kesulitan ketika hendak mengkonservasi orangutan dan buaya peliharaan Masdin, karena Masdin menolak menyerahkan kedua satwa dilindungi ini.

Namun, dengan pendekatan yang dilakukan secara persuasive, akhirnya Masdin datang menyerahkan sendiri satwa-satwa itu kepada BBKSDA Kalbar.

"Kami apresiasi sikap tersebut, karena memang mengutamakan pendekatan sosial untuk menyelamatkan satwa liar dilindungi ini," ungkap Azmadi.

Pihak BBKSDA telah memindahkan orangutan yang diberi nama Kepo itu ke pusat rehabilitasi dan konservasi orangutan milik Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia, yang berlokasinya di Kecamatan Sungai Awan, Kabupaten Ketapang, Senin sore (12/10).

Sementara buaya yang diserahkan Masdin masih disimpan di BBKSDA sambil mencari solusi untuk merelokasinya. "Kami masih mencari solusi untuk merelokasi hewan tersebut, karena untuk melepasliarkan atau menitipkan ke Sinka Zoo, Singkawang, harus terlebih dahulu melihat kondisi lokasi pelepasliaran atau penitipan tersebut," katanya. {Fahrum Ahmad}

16 Orangutan Terjangkit ISPA Akibat Kabut Asap

Published in Nasional
Minggu, 11 Oktober 2015 11:24

Medialingkungan.com – Hampir setiap pagi, kawanan Orangutan yang berada di Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah dibiarkan keluar dari kandang untuk menjaga perilaku adaptifnya merespon dunia luar dan belajar proses bertahan hidup di alam secara mandiri.

Kebiasaan setiap pagi itu saat ini menjadi berbeda. Kabut asap yang telah menjadi tirai di sepanjang pagi hingga malam menyebabkan terbatasnya aktivitas Orangutan melakukan kebiasaan-kebiasaan itu.

Biasanya, selepas keluar kandang, Orangutan bergelantungan di pohon. Bagi Orangutan dewasa tampak tidak mengalami kesulitan sedikitpun melakukannya, Namun berbeda dengan bayi Orangutan yang perlahan-lahan tampak merasakan dampak dari kabut asap.

"Karena dalam dua minggu terakhir ini kabut asap sangat tebal, enam belas bayi Orangutan terkena ISPA (infeksi saluran pernapasan atas). Itu menandakan bahwa bayi Orangutan sangat rentan sekali terhadap perubahan-perubahan cuaca atau kabut asap yang terjadi kali ini sangat berpengaruh besar pada makhluk tersebut," kata Denny Kurniawan, program manajer Borneo Orangutan Survival (BOS), seperti dikutip dari BBC, Sabtu (10/10).

Ia menambahkan, saat ini para bayi orang utan terpaksa hanya berkutit dalam ruangan. Dan karena tempatnya terbatas, mereka hanya berguling-guling di lantai saja.

Jika situasi tak kunjung membaik, ia khawatir, akan berdampak buruk pada psikologi Orangutan -- dalam waktu dekat.

"Saya sangat khawatir apabila kondisi ini terus berlangsung akan banyak sekali Orangutan yang ada di tempat kami itu sakit, atau bahkan tidak menutup kemungkinan ada berapa orangutan yang dapat mati," tutur Denny.

Sementara itu, pada Pusat Rehabilitasi Orangutan Samboja, di Kalimatan Timur, para stafnya mengevakuasi 200 Orangutan karena kebakaran hutan yang terjadi sangat dekat dengan wilayah mereka. Berdasarkan hitungannya, terdapat sekitar 700 Orangutan yang berada di margasatwa Kalimantan.

Selain orangutan, di tempat yang juga merupakan milik BOS itu terdapat kawanan beruang yang juga memerlukan perlindungan. {Fahrum Ahmad}

Penggiat Lingkungan Hidup Desak Pemerintah Ekspolitasi Satwa di Taman Safari

Published in Nasional
Jumat, 02 Oktober 2015 21:00

Medialingkungan.com – Di depan Kantor Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) di Jalan Gatot Subroto, Jakarta siang tadi diramaikan dengan aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh penggiat lingkungan hidup yakni Scorpion Wildlife Trade Monitoring Group dan Indonesian Friends of the Animal (IFOTA).

Tujuan dilakukannya unjuk rasa tersebut agar Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan segera melakukan penghentian pertunjukan dan eksploitasi satwa langka di Taman Safari dan kebun binatang di seluruh Indonesia.

“Kita meminta menghentikan semua pertunjukan  satwa langka di taman safari dan kebun binatang di seluruh indonesia," ujar koordinator Aksi, Marison Guciano, seperti yang dikabarkan viva.co.id, Jumat (02/10).

Sebagai investigator Senior Scorpion Wildlife Trade Monitoring Group, Marison menilai pertunjukan satwa langka di Taman Safari tersebut merupakan bentuk kegiatan yang mengeksploitasi satwa, melanggar hak asasi satwa dan merupakan bentuk bisnis yang kejam.

“Kenapa kami katakana kejam? Karena pertama bentuk eksploitasi satwa. Kemudian melanggar hak asasi satwa dan juga merupakan bisnis yang sungguh kejam,” ucapnya.

Oleh sebab itu, pihaknya mendesak Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya untuk menerbitkan peraturan menteri agar kegiatan tersebut bisa dihentikan.

Setelah mereka menyampaikan aspirasi di depan Kantor KLHK, beberapa puluh menit kemudian perwakilan dari masa tersebut diterima perwakilan dari kementerian untuk berdialog di dalam kantor KLHK. (Angga Pratama)

Halaman 1 dari 6

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini